Tidak semua masjid butuh proposal qurban. Kalau qurbannya kecil dan dananya sepenuhnya dari iuran shohibul, rapat panitia dan catatan anggaran sederhana biasanya sudah cukup.
Proposal jadi penting ketika Anda perlu meyakinkan pihak lain: pengurus DKM yang harus menyetujui penggunaan kas, donatur yang diminta menyumbang, atau instansi yang diajak bekerja sama. Panduan ini membahas cara menyusunnya, dan yang lebih penting — cara menyusun anggarannya agar tidak meleset.
1. Kapan proposal benar-benar diperlukan
| Situasi | Perlu proposal? |
|---|---|
| Qurban kecil, dana penuh dari iuran shohibul | Tidak. Cukup anggaran sederhana |
| Meminta subsidi dari kas DKM | Ya, meski ringkas |
| Mengajukan ke donatur atau perusahaan | Ya, lengkap |
| Kerja sama dengan instansi atau yayasan | Ya, lengkap |
| Qurban skala besar lintas RW | Ya, sebagai dokumen koordinasi |
Kalau Anda ragu, buat saja versi ringkasnya. Dokumen dua halaman berisi rencana dan anggaran jauh lebih membantu koordinasi internal daripada kesepakatan lisan yang setiap orang mengingatnya berbeda.
2. Kerangka proposal qurban masjid
| Bagian | Isi |
|---|---|
| Latar belakang | Kondisi masjid dan lingkungan, mengapa program ini diselenggarakan. Singkat saja, 2–3 paragraf |
| Tujuan | 3–4 poin konkret, bukan kalimat umum |
| Waktu & tempat | Tanggal pelaksanaan, lokasi penyembelihan dan distribusi |
| Sasaran penerima | Berapa KK, dari RT/RW mana, lembaga apa saja. Sertakan angka |
| Susunan panitia | Ringkas — cukup panitia inti dan koordinator divisi |
| Rencana anggaran | Bagian terpenting. Pemasukan dan pengeluaran |
| Penutup | Ucapan terima kasih, kontak penanggung jawab |
Tujuan yang konkret vs yang mengambang
Hindari: "meningkatkan ketakwaan dan mempererat ukhuwah". Semua proposal menulis itu, dan tidak ada yang bisa mengukurnya.
Lebih baik: "menyalurkan daging qurban kepada 400 KK di RW 03 dan 04, termasuk 3 panti asuhan dan 1 pesantren di sekitar masjid, dengan pencatatan penerima yang bisa dipertanggungjawabkan."
3. Menyusun anggaran yang realistis
Anggaran qurban punya satu karakter yang membedakannya dari anggaran kegiatan lain: komponen terbesarnya berfluktuasi menjelang hari-H. Harga hewan qurban cenderung naik mendekati Idul Adha.
Struktur anggaran
| Pemasukan | Cara menghitung |
|---|---|
| Iuran shohibul sapi | Jumlah slot × harga per slot |
| Iuran shohibul kambing | Jumlah ekor × harga per ekor |
| Infaq qurban | Perkiraan konservatif — jangan optimistis |
| Subsidi kas DKM | Sesuai persetujuan pengurus |
| Pengeluaran | Catatan |
|---|---|
| Pembelian hewan | Komponen terbesar, 80–90% total |
| Transport & penitipan | Termasuk pakan selama penitipan |
| Honor juru sembelih | Uang, bukan jatah daging |
| Perlengkapan | Plastik, terpal, tali, pisau, batu asah, timbangan |
| Konsumsi panitia | Sarapan dan makan siang |
| Cetak kupon & administrasi | Sering terlupa |
| Kebersihan & limbah | Sering terlupa, dan bisa cukup besar |
| Cadangan 5–10% | Wajib ada |
Mengunci harga lebih awal
Kalau memungkinkan, sepakati harga dengan peternak jauh sebelum hari-H, meski pembayarannya bertahap. Selisih harga antara kontrak tiga bulan sebelumnya dan pembelian seminggu sebelum Idul Adha sering cukup besar untuk membiayai satu ekor tambahan.
4. Menentukan iuran shohibul
Iuran per slot bukan sekadar harga hewan dibagi tujuh. Ada biaya operasional yang harus ikut tertutup.
Rumus dasarnya:
Iuran per ekor kambing = harga kambing + biaya operasional per hewan + cadangan
Biaya operasional per hewan didapat dari total pengeluaran non-hewan dibagi jumlah hewan. Kalau total operasional Rp 4.000.000 untuk 10 hewan, berarti Rp 400.000 per hewan — atau sekitar Rp 57.000 per slot sapi.
Sampaikan rinciannya ke shohibul
Banyak panitia menyebut satu angka bulat tanpa penjelasan, lalu muncul pertanyaan "kok lebih mahal dari pasar?". Sampaikan sejak awal bahwa iuran mencakup hewan plus operasional — dan sebutkan komponennya. Ini menghilangkan hampir semua keberatan.
5. Pos biaya yang paling sering terlupa
- Pakan hewan selama penitipan. Kalau hewan datang H-3, ada biaya pakan tiga hari yang jarang dianggarkan.
- Pengelolaan limbah. Darah, isi perut, dan tulang perlu diangkut. Di beberapa daerah ini berbayar dan tidak murah.
- Air. Proses qurban memakan air jauh lebih banyak dari perkiraan.
- Cetak kupon dan kartu tugas panitia. Kecil per lembar, tapi jumlahnya ratusan.
- Sewa atau perbaikan timbangan. Timbangan tahun lalu sering ternyata sudah tidak akurat.
- Konsumsi panitia hari kedua dan ketiga. Hari tasyrik sering terlupa dalam anggaran.
- Biaya tak terduga penggantian hewan. Ada kalanya hewan sakit atau cacat dan harus diganti mendadak.
6. Mengajukan ke donatur atau instansi
Kalau proposal ditujukan ke pihak luar, ada beberapa hal yang menentukan diterima atau tidak:
- Lampirkan laporan tahun sebelumnya. Ini bukti terkuat bahwa dana dikelola dengan baik. Donatur jauh lebih percaya pada rekam jejak daripada janji.
- Sebutkan angka penerima yang spesifik. "Menyalurkan ke 400 KK dan 3 panti asuhan" jauh lebih meyakinkan daripada "menyalurkan kepada masyarakat sekitar".
- Tawarkan bentuk pelaporan. Sebutkan bahwa donatur akan menerima laporan pelaksanaan beserta dokumentasi. Ini sering jadi pembeda.
- Ajukan jauh hari. Perusahaan punya siklus anggaran. Proposal yang masuk sebulan sebelum hari-H hampir selalu terlambat untuk dianggarkan.
- Sertakan kontak yang bisa dihubungi. Nama, jabatan, nomor WhatsApp. Proposal tanpa kontak jelas sering berhenti di meja.
Ringkasan
Proposal qurban tidak selalu diperlukan, tapi anggaran selalu diperlukan — bahkan untuk masjid terkecil sekalipun. Susun anggaran dengan cadangan 5–10%, jangan lupakan pos operasional yang sering terlewat, dan sampaikan rincian iuran secara terbuka ke shohibul.
Kalau proposal ditujukan ke pihak luar, satu hal yang paling menentukan adalah lampiran laporan tahun sebelumnya. Itu artinya kualitas proposal tahun ini ditentukan oleh laporan pertanggungjawaban yang Anda buat tahun lalu.
Sebelum menyusun anggaran, susunan panitianya perlu jelas dulu — dibahas di panduan lengkap panitia qurban masjid. Perlu diperhatikan juga bahwa honor juru sembelih dan operasional panitia sebaiknya dianggarkan sebagai pos uang, bukan jatah daging; alasannya dijelaskan di panduan pembagian daging qurban.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah masjid wajib membuat proposal qurban?
Tidak selalu. Kalau qurbannya kecil dan dananya sepenuhnya dari iuran shohibul, anggaran sederhana sudah cukup. Proposal diperlukan ketika perlu meyakinkan pihak lain: pengurus DKM untuk penggunaan kas, donatur, atau instansi yang diajak bekerja sama.
Bagaimana cara menentukan iuran shohibul qurban?
Iuran per slot sapi dihitung dari harga sapi dibagi tujuh, ditambah biaya operasional per hewan dibagi tujuh, ditambah cadangan. Biaya operasional per hewan didapat dari total pengeluaran non-hewan dibagi jumlah hewan. Sampaikan rinciannya ke shohibul agar tidak muncul pertanyaan mengapa lebih mahal dari harga pasar.
Berapa cadangan yang perlu disiapkan dalam anggaran qurban?
Sekitar 5–10% dari total anggaran. Cadangan ini untuk mengantisipasi kenaikan harga hewan, penggantian hewan yang bermasalah, atau perlengkapan yang kurang di hari-H. Anggaran tanpa cadangan hampir pasti jebol, dan menutupnya di menit terakhir selalu lebih mahal.